Selasa, 11 September 2012

Hakikat Pembelajaran Terpadu

Hakikat Pembelajaran Terpadu

OPINI | 04 October 2010 | 17:19 OLEH IRNAMAWATI
Pada akhir-akhir ini pergantian kurikulum ke kurikulum hampir tidak berjarak, memang hal itu mempunyai tujuan yang baik yaitu untuk memperbaharui dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Namun apa hal itu sudah berhasil secara optimal bagi pendidikan kita?
Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aspek salah satunya adalah tepat tidaknya pembelajaran yang diterapkan. Berarti dalam hal ini juga sangat dipengaruhi oleh guru, karena guru sangat besar peranannya dalam keberhasilan pembelajaran.
Pembelajaran menurut pandangan yang sudah berlangsung lama ditempatkan sebagai proses transfer informasi atau transfer of knowledge dari guru kepada siswa. Namun hal tersebut tidak selamanya benar karena guru bukanlah satu-satunya sumber informasi dan menempatkan siswa atau peserta didiknya sebagai objek yang pasif sehingga potensi-potensi keindividualannya tidak dapat berkembang secara optimal. Seharusnya guru dapat membuat siswanya berkembang secara dinamis dan optimal sesuai perkembangannya. Guru hendaknya memberikan dorongan dan arahan kepada siswa untuk mencari berbgai sumber yang dapat membantu peningkatan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang aspek-aspek yang dipelajari. Hal itu sesuai dengan UUD 1945, pendidikan seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa, berarti pendidikan adalah usaha untuk memberdayakan manusia. Menurut Tillar manusia yang berdaya adalah manusia yang dapat berfikir kretif, yang mandiri, dan yang dapat membangun dirinya dan masayarakatnya (Aunurrahman, 2009).
Pembelajaran (instruction) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses atau cara guru membuat muridnya belajar (Muhibbin Syah, 2002). Pembelajaran sebagai sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar anak, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar anak yang bersifat internal.
Belajar
Berbagai pendapat dan literatur banyak yang mengungkap tentang belajar. Namun tidak mengapa karena membahas belajar tidak ada hentinya seperti halnya orang yang belajar, belajar tidak ada batasannya dan terus menerus.
Menurut Muhibbin Syah belajar adalah key term, “istilah kunci” yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar, sebab kemampuan berubah karena belajar maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk hidup lainnya. Dan boleh jadi karena kemampuan berkembang melalui belajar orang/manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting bagi kehidupannya.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Hal itu berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya.
Menurut Skinner belajar merupakan suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif “…a process of progressive behavior adaptation” (Muhibbin Syah, 2002). Berdasarkan eksperiennya proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil optimal apabila ia diberi penguat (renforcer). Berarti siswa dalam belajar juga memerlukan penguat agar dapat berhasil dengan optimal.
Chaplin membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Pertama berbunyi ” … acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience” (belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatife menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan kedua adalah process of acquiring respons as a result of special practice (belajar adalah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus).
Belajar juga didefinikan sebagai: any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience (belajar ialah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu orgenisme sebagai hasil pengalaman).
Berdasarkan beberapa pengertian belajar di atas dapat diambil pengertian bahwa belajar dapat ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku yang terjadi dalam keseluruhan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Proses belajar anak tidak terlepas dari karakteristik atau sifat menonjol dari usianya. Paling tidak terdapat empat karakter, khususnya untuk anak Sekolah Dasar. Pertama, siswa SD senang bermain, hal itu menuntut guru SD untuk mengemas pembelajarannya agar anak tetap bermain atau bisa dikatakan “bermain seraya belajar, belajar seraya bermain” (Y. Padmono). Karakter kedua bahwa siswa SD senang merasakan dan melakukan sesuatu secara langsung (konkret) sesuai perkembangannya. Ketiga, siswa SD cenderung lebih senang bergerak. Karakter yang keempat yaitu siswa senang bekerja kelompok.
Oleh karena itu, guru khususnya guru SD dalam mengemas pembelajarannya harus disesuaikan dengan karakteristik perrkembangan siswa dan juga sesaui kebutuhan siswa. Dalam proses pwmbwlajaran, pengembangan potensi-potensi siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Pengembangan potensi siswa secara tidak seimbang menjadikan pendidikan cenderung lebih peduli pada pengembangan satu aspek saja, bersifat partikular dan parsial. Padahal sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan siswa merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah dan guru, dan sangat keliru jika guru hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pada bidang studi saja (Gordon dalam Aunurrahman, 2009).
Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya memperhatikan aspek-aspek pembelajaran secara holistik yang mendukung terwujudnya pengembangan potensi-potensi peserta didik. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa (Aunurrahman, 2009).
Berdasarkan uraian di atas manakah pembelajaran yang efektif? Dan bagaimana dengan pembelajaran terpadu?
Pembelajaran Terpadu
Pengemasan pengalaman yang dirancang untuk siswa akan sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman untuk murid sangat tersebut bagi mereka. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur koseptualnya, baik intra maupun antarbidang studi, akan meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif (Tisno Hadi Subroto dan Ida Siti Herawati, 2004).
Pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik (Sugiyanto, 2008). Pembelajaran ini berangkat dari sebuah tema, dimana nantinya bidang studi yang satu dengan yang lain terpadu dengan sendirinya, bukan dipadukan.
Melalui pembelajaran ini siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna,otentik dan aktif.
Pembelajaran terpadu akan terjadi jika kejadian yang wajar atau eksplorasi suatu topik merupakan inti dalam pengembangan kurikulum. Melalui peran aktif siswa dalam eksplorasi tersebut, siswa akan mempelajari materi ajar dan proses belajar beberapa bidang studi dalam waktu yang bersamaan. Pembelajaran terpadu melalui eksplorasi topik atau tema maka pembelajaran berlangsung diseputar tema kemudian membahas masalah konsep-konsep pokok yang terkait dalam tema.
Dengan demikian, pembelajaran terpadu merupakan salah satu alternative pembelajaran yang efektif, dan dapat diterapkan dalam pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar